2,5 Tahun Mencari Keikhlasan (part 3)

Terhitung semenjak hari itu, hari-hariku menjadi buram, kelabu, penuh kebencian dan kemarahan yang tak bisa terluapkan. Aku nggak mau seperti Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu karena membuat sakit hati ibunya. Iya, kebencian dan kemaran itu terlampiaskan lewat airmata. Bahkan beberapa minggu, aku rasanya malas untuk memakan masakan dari Ibu. Yang dari dulu, masakan Ibu adalah masakan paling enak di dunia. Jadi, aku makannya di rumah Budhe atau makan diluar dan setelah itu bisa jalan-jalan sampai larut malam. Walaupun saat sampai rumah, Ibu ngomel-ngomel nggak jelas. Tapi siapa peduli? Salah satu orang yang paling khawatir adalah Ayah. Setiap dia pulang kerja selalu menanyaiku sudah makan atau belum?

"Sudah makan belum Nang? Makan dulu yuk?"
"Males Yah, makanannya nggak enak"
"Mau makan apa? Dimana?"
Ayah pun harus mengalah hanya untuk menemaniku makan diluar. Menjadi dekat dengan seorang Ayah itu, menyenangkan. Aku sangat salut sama beliau, kesabaran, kesederhanaan, kerja keras. Setidaknya aku tau, sifat polosku ini keturunan dari siapa. Aku nggak tau apakah selama ini Ayah membujuk Ibu untuk memberikan ijin apa enggak. Tapi memang, kalo Ibu sudah seperti ini nggak pernah ada yang bisa merubahnya. Kecuali dirinya sendiri yang menyadari kesalahan yang dilakukannya.

Aku juga diajari Budhe untuk sholat malam, meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Dan semua mengalir seperti itu. Sampai akhirnya hanya aku dan Ibu, bicara berdua. Saat itu, cara bicara Ibu menjadi sangat lembut tapi kata-katanya sungguh menyakitkan hati.
"Sudahlah, kamu nggak usah ke Bogor. Cari saja kampus lain di Semarang. Kamu mau nanti kalo Ibu sakit keras dan meninggal kamu nggak bisa melihat Ibu untuk terakhir kali?"
Kata-kata terakhir itu selalu Ibu jadikan alasan untuk mempengaruhiku. Arrrrghhhh!! Kata-kata itu sangat menyebalkan!
"Udah nggak bisa Buk, kalo menolak di IPB otomatis aku nggak boleh ikut SNMPTN lagi. Yang bisa masuk ya ke swasta, ngerti sendiri biayanya berapa"
 "Ya udah, lanjutin saja di sini. Di UMK atau STAIN atau mau AKPER?"
"Pokonya pengen di IPB!!"
"Nang, selama ini Ibu nurutin mau kamu. Kamu minta apa Ibu turutin. Sekali ini Ibu minta, Ibu nggak minta yang muluk-muluk. Ibu minta kamu selalu dekat dengan Ibu, setidaknya Ibu akan senang lihat adanya baik-baik saja disini"
Airmata Ibu menangis, bicaranya menjadi terpenggal-penggal dan parau. Keadaan menjadi terbalik, kini bukan aku yang meminta. Tapi kini Ibu yang memohon kepadaku.
"Buat apa kamu sukses di sana tapi kamu jauh dari keluarga? Jauh dari Ibu?"
Aku semakin nggak tega melihat airmata Ibu mengalir begitu derasnya. Keadaan ini membuatku meneteskan airmata, speechless. Jarang aku melihat Ibu menangis seperti ini, kenapa aku seegois ini? Ini permintaan orang tua agar bisa selalu dekat dengan anaknya. Tapi aku ingin menggapai mimpiku dan itupun untuk membahagiakan mereka, kedua orang tuaku. Mungkin petunjuk dari Allah sudah sangatlah jelas dan kini saatnya aku untuk memutuskan




"Iya Bu, aku nggak jadi ke IPB"
Ibu memandangku dan kemudian memelukku, ini benar-benar canggung buatku. Aku sering pelukin Ibu, tapi dalam suasana yang seperti ini jarang terjadi. Ibu pun bisa tersenyum.
"Ya Allah, semoga ini menjadi keputusan terbaik bagi hamba. Dan ini adalah ridho-Mu untuk menghantarkanku kepada kesuksesan"


Tidak ada komentar on "2,5 Tahun Mencari Keikhlasan (part 3)

Leave a Reply