2,5 Tahun Mencari Keikhlasan (part 2)

Akhirnya, hari itu aku putusin untuk memberi tahu kabar diterimanya aku di IPB kepada kedua orang tuaku. Sehabis sholat maghrib, karena waktu segitu lah Ibu sama Ayah bisa kumpul. Mereka sedang menikmati tontotan sinetron pada layar televisi. Dengan langkah pelan, aku mendekati Ayah dan menyerahkan selembar kertas berisi pengumuman yang sudah aku print.

"Yah, aku diterima di IPB" nada datar keluar dari mulutku, bukan ekspresi kegembiraan. Aku menoleh ke arah Ibu yang raut mukanya berubah menjadi ekspresi tidak suka.

"IPB mana nang? Tidak jadi ke UNDIP nggih?" tanya Ayah. Seumur hidupku, bahkan sampai diusiaku yang ke 20tahun ini Ayah belum pernah yang namanya marah sama aku. Bahkan bicara dengan nada tinggi pun nggak pernah. Disayang Ayah? Memang benar, bahkan sampai SMP pun beliau masih sering memberikan ciuman dipipiku. Dan aku kadang nggak suka karena sehabis dicium pasti pipiku basah.

"Bogor Yah, itu yang UNDIP nggak diterima. Keterimanya di IPB itu"

"Kok bisa-bisanya lho kamu daftar di Bogor! Yang kamu pikirin apa! Kenapa nggak cerita kemaren-kemaren! Kayak kamu bisa aja hidup sendirian diluar kota!" dengan nada tinggi Ibu memarahiku setelah mendengar kata Bogor terucap dari mulutku. Bahkan dia mengungkit-ungkit masa laluku yang nggak pernah bisa hidup jauh dari orang tua. Aku hanya bisa menunduk dan terdiam, rasanya airmata ingin keluar dari mataku namun aku tahan karena aku nggak ingin terlihat cengeng di depan Ibu yang semakin memperkuat argumennya tentang diriku. Sedangkan Ayah hanya menghelas nafas panjang.

"Buk...." Ayah mencoba menengkan agar Ibu berhenti berbicara.

"Apa pilihanmu ini sudah mantap nang? Apa kamu yakin bisa menjalani hidupmu disana? 4 tahun nang, bukan waktu yang sebentar dan Bogor itu nggak dekat lho"

"Aku bisa Yah, kan disana juga nanti ada temen-temen banyak yang dari Kudus juga. Kalo mereka saja bisa, kenapa aku nggak bisa?"

Sepertinya Ibu mau berbicara, namun dicegah oleh Ayah. Walaupun gerundel tapi Ibu mengurungkan niatnya dan kembali diam.

"Kalo emang yakin, Ayah ijinin kamu kuliah disana"

"Enggak!! Ibu nggak bakal setuju kamu kuliah di sana. Kamu mikir tho nang, jangan cuma ikut-ikutan sama temen-temenmu"

"Aku milih IPB bukan karena temen-temen Buk, tapi emang aku pengen di sana biar bisa lebih baik lagi"

"Pokoknya, Ibu nggak setuju. Kalo nurutin Ayahmu jangan anggap aku Ibumu lagi. Buat apa dari kecil dibesarin kalau akhirnya besar-besar nggak nurut sama orang tua"

Ternyata ini semua jauh dari perkiraanku, nggak semudah meyakinkan kedua orang tuaku. Walaupun aku sudah mendapat ijin dari Ayah, tapi kekuasaan tertinggi ada pada Ibu. Selama ini aku berusa untuk membuat mereka bangga padaku. Aku seneng saat hari raya Idul Fitri, saat ada kumpul keluarga besar mereka selalu membanggakan kalau anaknya sekolah di SMA 1 Kudus. Sekolah paling bonafit di Kota ku. Pikiranku, diterima di IPB akan membuat mereka kembali bangga kepadaku. Namun itu semua salah besar.

Aku berlari ke kamarku, aku hanya bisa menangis dengan membenamkan muka di bantal. Semenjak hari itu, rumah menjadi tempat yang nggak mengenakkan buat aku. Apalagi harus bertemu Ibu, dan setiap bertemu dia selalu berkata untuk nggak usahlah ke IPB. Dan itu membuat hatiku sakit. Salah satu cara untuk menghilangkan rasa sakit itu adalah pergi ke rumah Budhe. Setidaknya Budhe selalu bertindak netral, tidak memihak ke Ayah ataupun Budhe.





Tidak ada komentar on "2,5 Tahun Mencari Keikhlasan (part 2)

Leave a Reply